Headlines News :
Home » » Kisah Percintaan Ibu Fatmawati

Kisah Percintaan Ibu Fatmawati

Written By Ahnaf Muzayyinul Islam on Minggu, 06 Januari 2013 | 17.03


Nama Lengkap : Fatmawati
Tempat Tanggal Lahir : Bengkulu,5 Februari 1923
Agama : Islam
Nama Ayah : H. Hassan Din
Nama Ibu : Siti Khadidjah
Nama Anak :
-Guntur Soekarnoputra
-Megawati Soekarnoputri
-Rachmawati Soekarnoputri
-Sukmawati Soekarnoputri
-Guruh Soekarnoputra
Keluarga : Istri Presiden Republik Indonesia Ir Soekarno

Pendidikan

-Sekolah Gedang atau Sekolah Rakyat
-Sekolah berbahasa Belanda atau HIS
-HIS Muhammadiyah

Ibu Fatmawati lahir pada hari Senin,5 Pebruari 1923 Pukul 12.00 Siang di Kota Bengkulu, sebagai putri tunggal keluarga H. Hassan Din dan Siti Chadidjah.

Masa kecil Fatmawati penuh tantangan dan kesulitan,akibat sistem kolonialisme yang dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Ayah nya, H Hassan Din semula adalah pegawai perusahaan Belanda di Borsumij, Sekarang menjadi Bengkulu
Karena tidak mau meninggalkan kegiatannya sebagai anggota Muhammadiyah,H Hassan Din kemudian keluar dari perusahaan itu.

Setelah itu,Hassan Din sering berganti usaha dan berpindah ke sejumlah kota di kawasan Sumatera Bagian Selatan.

Ibu Fatmawati merupakan keturunan dari Kerajaan Indrapura
Sang ayah Hassan Din adalah keturunan ke-6 dari Kerajaan Putri Bunga Melur.

Putri Bunga Melur bila diartikan adalah putri yang cantik,sederhana,bijaksana, Tak heran bila Fatmawati mempunyai sifat bijaksana dan mengayomi.

Kisah Cinta Bung Karno dan Ibu Fatmawati

Jalinan cinta antara Bung Karno dan Ibu Fatmawti pada awalnya membutuhkan perjuangan yang sangat berat.
Demi mendapatkan Ibu Fatmawati yang begitu dicintainya,Bung Karno dengan perasaan yang sangat berat terpaksa harus merelakan kepergian Ibu Inggit,sosok wanita yang begitu tegar dan tulusnya mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai Indonesia Merdeka.

Pahit getir sebagai orang buangan (Tahanan Belanda) sering dilalui Bung Karno bersama Ibu Inggit, Namun Perjalanan waktu berkehendak lain, kehadiran Ibu Fatmawati diantara Bung Karno dan Ibu Inggit telah merubah segalanya.

Pada tahun 1943 Bung Karno menikahi Ibu Fatmawati, Pada saat Ibu Fatmawati masih berada di Bengkulu ,sementara Bung Karno sibuk dengan kegiatannya di Jakarta sebagai pemimpin Pusat Tenaga Rakyat (Putera),pernikahan itu dilakukan dengan wakil salah seorang kerabat Bung Karno,Opseter Sardjono.

Hubungan Cinta Jarak Jauh

Hubungan Bung Karno Dan Ibu Fatmawati bisa di bilang hubungan cinta jarak jauh, tak jarang Bung Karno Dan Ibu Fatmawati sering berkirim surat.

Berikut salah satu isi surat cinta yang pernah Bung Karno kirimkan untuk Ibu Fatmawati ;

11 September 1941
O Fatma, jang menjinarkan tjahja.
Terangilah selaloe djalan djiwakoe,soepaja sampai dibahagia raja.
Dalam swarganya tjinta-kasihmoe….

Kedatangan Ibu Fatmawati Ke Jakarta

Pada 1 Juni 1943,Ibu Fatmawati dengan diantar orang tuanya berangkat ke Jakarta,melalui jalan darat, Sejak itu Ibu Fatmawati mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai Kemerdekaan Indonesia.

Perjalanan sepasang merpati penuh cinta ini,akhirnya dikaruniai lima orang putra-putri :
-Guntur Soekarnoputra
-Megawati Soekarnoputri
-Rachmawati Soekarnoputri
-Sukmawati Soekarnoputri
-Guruh Soekarnoputra

Belum genap mereka mengarungi bahtera rumah tangga,Bung Karno tak kuasa menahan gejolak cintanya kepada wanita lain bernama Ibu Hartini, Inilah salah satu pangkal sebab terjadinya perpisahan yang dramatis antara Bung Sukarno dan Ibu Fatmawati

Penuturan Bung Karno Atas Perpisahan Diri Nya Dengan Ibu Fatmawati

Pada sore hari di tahun 1962, Bambang Widjanarko memberanikan diri mempertanyakan perihal anak-anak Bung Karno yang menurut nya membutuhkan sosok seorang Ibu Fatmawati

Bambang Widjanarko merupakan salah satu ajudan yang diketahui sangat dekat hubungannya dengan putra-putri Presiden.

Hal ini yang membuat Bambang Widjanarko menjadi gelisah tentang anak-anak Bung Karno yang manurut nya membutuhkan Kasih Sayang dari seorang Ibu

Dengan memberani diri,Bambang Widjanarko mencoba mendatangi Bung Karno ;

“Ada apa Mbang,” Bung Karno bertanya.

“Mohon Bapak jangan marah, saya ingin membicarakan adik-adik tercinta, putra-putri Bapak.”

“Ya, Mbang, ada apa dengan anak-anak?” Jawab Bung Karno

“Begini Pak, sudah dua tahun saya menjadi ajudan Bapak. Setiap hari saya melihat dan bersama dengan putra-putri Bapak, saya juga amat menyayangi dan mencintai mereka.

Mungkin segala keperluan lahiriah sudah cukup mereka peroleh, tetapi menurut saya ada sesuatu yang amat mereka butuhkan, mereka dambakan siang-malam, yakni adanya seorang ibu yang mendampingi dan mengasihi mereka siang-malam.

Karena itu, bila Bapak berkenan demi kebahagiaan anak-anak, apakah tidak lebih baik bila Bapak meminta Ibu Fatmawati kembali ke Istana?"

Wajah Bung Karno seketika berubah menjadi kelam, dan matanya tajam menatap Bambang Widjanarko, ajudannya.

Tentu saja, hal itu membuat Bambang Widjanarko gentar, campur aduk antara takut dan menyesal telah lancang mencampuri urusan rumah tangga Bung Karno.
Rumah tangga Presiden, Panglima Tertinggi, Pemimpin Besar Revolusi.

Yang terjadi selanjutnya adalah, Bung Karno diam sekitar semenit-dua, Setelah itu, senyum tipis tersirat di bibir Bung Karno seraya berkata :

“Bambang, jangan takut, aku tidak marah kepadamu. Mari duduk, akan aku ceritakan kepadamu.”

Dengan gentar dan menahan malu, Bambang Widjanarko akhirnya duduk mendengar penjelasan Bung Karno

“Mbang, pertama percayalah bahwa aku tidak marah kepadamu. Aku mengerti betul maksudmu didasari kehendak baik demi anak-anakku sendiri yang juga kau sayangi.

Engkau seorang muda yang penuh idealisme dan selalu berusaha mencapai itu menurut norma-norma yang kau pelajari dan kau ketahui. Itu baik, tetapi mungkin masih banyak juga yang belum kau mengerti.”

“Bambang, menurut hukum agama Islam, seorang istri mempunyai kewajiban antara lain harus mengikuti suami dan berada di rumah suami.

Istana Merdeka ini adalah rumahku, aku tidak mempunyai rumah lain, dan aku tidak pernah mengusir Ibu Fatmawati dari Istana ini.

Ibu Fatmawati sendiri yang pergi meninggalkan rumahku, rumah suaminya. Aku juga tidak pernah melarang Ibu Fatmawati untuk datang atau kembali ke sini, atau melarang menengok serta berada dengan anak-anak.

Ibu Fatmawati bebas untuk datang dan berada di Istana ini, Mbang, adalah kurang tepat bila aku meminta Ibu Fatmawati untuk kembali, aku tidak pernah mengusirnya.”

Selanjutnya, Bung Karno juga menceritakan saat-saat indah mereka di Bengkulu, zaman penjajahan Jepang. Juga saat-saat kebersamaan di Yogyakarta, dan sebagainya.

Banyak hal yang telah terjadi di antara keduanya, dan itu menyadarkan siapa pun tentang betapa kompleksnya kehidupan manusia.

Dan itu semua makin membuat Bambang Widjanarko tertunduk makin dalam. Bambang Widjanarko merasa malu telah berani bertanya atau memberi nasihat kepada Bung Karno tanpa berpikir panjang.

Saat Bambang Widjanarko Menahan malu dan penyesalan nya,Bung Karno melanjutkan penuturan nya

“Bambang, biarlah orang-orang, termasuk anak-anak ku, menyalahkan diriku, aku toh seorang laki-laki. Tetapi anak-anakku wajib mencintai dan terus menghormati serta menghargai ibunya.

Semua kesalahan biar ada padaku. Dan, Bambang, terima kasih atas perhatianmu pada anak-anakku. Meskipun bukan merupakan tugas pokok, tolong, turutlah juga mengawasi anak-anak ku itu.”

Mendengar penjelasan Bung Karno, tak terasa air mata mengalir pelan di wajah Bambang Widjanarko.
Seketika, Bambang Widjanarko berdiri, memberi hormat dan meninggalkan Bung Karno sendiri dalam kamarnya.

Sejak itu, Bambang Widjanarko bersumpah, bahwa ia tidak akan pernah lagi mencampuri urusan rumah tangga Bung Karno.

Mungkin tidak banyak yang menyalahkan Bung Karno atas apa yang di lakukan nya terhadap Istri-Istri nya
Di sini ku bukan bermaksud membela atau membenarkan Bung Karno,tetapi pahami dahulu apa yang kita fikirkan tentang Beliau.

Bahkan ketika berpisah dengan Istri-Istri nya,Bung Karno tak pernah sedikit pun marah atau membenci nya
Bahkan Beliau Rela mengantarkan Istri nya pulang,bukan kah itu bukti seorang Pria sejati yang penuh rasa tanggung jawab

Dan bahkan Beliau rela di salahkan tanpa memberikan alasan jika tak ada yang berani bertanya. Sungguh sosok yang penuh Kharismatik dan Kewibawaan.

Tahoe kah kamoe?

- Dahulu Bung Karno sering bersepeda bersama Ibu Fatmawati sambil menikmati indah nya pemandangan Sore hari,entah di kota Bengkulu atau di Kota lain nya
Saat itu Ibu Fatmawati dengan manja nya memeluk Bung Karno dari belakang dan Bung Karno dengan pakaian Lengkap nya mengayuh sepeda berkeliling ke tempat yang ingin mereka kunjungi, Senyum bahagia tampak tersirat di kedua wajah Dua Insan yang penuh kasih ini
Romantis sekali
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Follow Me

Anda Pengunjung Ke

Entri Populer

Arsip Blog

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. AREA UNIK - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template